Bagaimana Jalan Meraih Hadiah Nobel?

 

Ditengah semaraknya semangat kita terhadap perolehan hadiah nobel bidang iptek yang di tandai dengan banyaknya kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut, sebenarnya bagaimanakah jalan yang telah ditempuh oleh para peraih nobel itu?

 

Para Pembicara

Para Pembicara

Pada akhir Februari tahun lalu, saya mendapatkan kesempatan yang sangat langka untuk menghadiri pertemuan yang dinamai First Hope Meeting di kota pusat Iptek Jepang Tsukuba. Pertemuan yg diselenggarakan oleh Japan Society for the Promotion of Science ini bertujuan untuk memberi pencerahan pada peningkatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan Asia Pasifik. Hadir dalam acara tersebut 5 orang peraih hadiah Nobel (lihat foto 1. Dr. Leo Esaki (Nobel Prize bidang Fisika tahun 1973) Jepang, 2. Dr. Heinrich Rohrer (Fisika, 1986) Swiss, dan 3.  Dr Hideki Shirakawa -Jepang- serta 4. Dr. Alan Heeger -USA- (Kimia, 2000 secara bersama), 5. Dr. RB Laughin (Fisika 1998) USA serta pembicara undangan di antaranya 6. Dr. David Swinbanks (CEO Nature Asia Pasific), 7.  Dr. Bröje Johansson (Member of the Royal Swedish Academy of Sciences, Member of Nobel Committee for Physics) menyajikan makalah dan diskusi secara khusus kepada puluhan mahasiswa S3 yang mewakili 13 negara Asia Pasifik. Juga peserta undangan dan peserta pendengar.

Pada umumnya pembicara penerima hadiah Nobel menyampaikan capaian yang mereka peroleh hingga mendapatkan penghargaan Nobel. Pada umunya pekerjaan yang mereka lakukan didasari dengan pemahaman yang kuat atas dasar teoritis yang kemudian dibuktikan dengan ekperimen yang maju. Terobosan yang dilakukan memberikan jalan baru untuk mengatasi kebuntuan ilmu pengetahuan sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya, terobosan yang dilakukan dengan penemuan super lattice oleh Dr Esaki merupakan pembuktian atas perkiraan teoritis di bidang quantum mekanik yang telah dilakukan jauh sebelumnya. Temuan ini membuka jalan bagi diperolehnya semikonduktor yang lebih maju dibanding dengan yang ada sebelumnya hingga membawa dunia elektronik pada era IC yang lebih kompleks. Hal yang mirip dicontohkan oleh Dr. Johansen tentang hadiah Nobel yang diberikan atas penemuan femomena Giant Magneto Resistant, fenomena yang telah diprediksi secara teoritis (lagi-lagi pada bidang quantum mekanik) pada pertengan tahun 50an namun baru dapat dibuktikan secara ilmiah setelah teknologi dapat menyediakan perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan eksperimen atas teori tersebut. Terobosan ini dapat dimanfaatkan untuk media penyimpanan data, yang kita nikmati hasilnya saat ini dengan pertumbuhan daya simpan harddisk komputer. Namun demikian, hal yang berbeda dialami Dr. Shirakawa, beliau secara “kebetulan” mendapati fenomena yang tidak biasa dalam polimer asetilen ketika dilakuan beberapa modifikasi. Temuan ini kemudian membuka jalan bagi ditemukannya polimer yang bersifat konduktif. Hasilnya saat ini dunia sedang gencar2nya mengambangkan sel surya berbasis polimer yang konon jauh lebih efisiean dan lebih murah di bandingkan dengan sel surya berbasis silikon yang ada selama ini. Hal itulah yang saat ini sedang di dalami kembali oleh peraih hadial nobel lainnya Dr. Heeger sehingga mereka secara bersama memenangi hadiah Nobel kimia. Namun, kebetulan Mr. Shirakawa ini tentu tidak akan terjadi bila tidak ada ketekunan dan kontinyuitas dalam melakukan pekerjaan penelitiannya.

Pembicara tamu dari dalam negri Jepang juga menunjukan beberapa penemuan dan terobosan baru yang spektakuler dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti penemuan tentang quantum dots, carbon tube, graphene semiconductor, photocatalyst TiO2 dan nanomolecular robot. Bila pada saat ini mereka belum mendapatkan hadiah Nobel, mungkin itu hanya masalah waktu, atau pada saat yang sama terjadi penemuan atau terobosan ilmu pengetahuan yang lebih spektakuler. Yang pasti, temuan dan terobosan itu terjadi setelah mereka secara kontinyu mendalami apa yang mereka kerjakan berpuluh-puluh tahun dan didasari oleh rasa keingintahuan yang dalam.

Berbicara mengenai perkembangan iptek di kawasan Asia-Pasifik, secara khusus Dr. Swinbanks memaparkan capaian dalam perkembangannya yang diindikasikan dengan jumlah makalah yang disubmit dan diterima untuk diterbitkan oleh majalah Nature. Pertumbuhannya sangat pesat, terutama dalam bidang elektronika dan optik. Tetapi pertumbuhan itu hanya dimotori oleh tiga negara utama, yaitu Jepang, China dan India.

 

Bagaimana Memenangkan Hadiah Nobel

Secara umum, apakah itu penelitian yang terdisain baik atau yang beruntung, yang kemudian berbuah hadiah Nobel tidak dilakukan secara singkat tapi memakan waktu berpuluh tahun yang melelahkan, meskipun Dr Johansen memberikan contoh adanya pemenang hadiah Nobel yang masih sangat muda dibanding pemenang lainnya. Disini yang penting di catat adalah bahwa pada umumnya pemenang hadiah Nobel tidak mendasari penelitiannya dengan tujuan untuk mendapatkan hadiah Nobel pada awalnya, tetapi semata-mata didasari oleh rasa keingintahuan atas suatu fenomena alam, atau rasa ketidakpercayaan pada suatu teori atau asumsi yang selama ini telah diterima oleh pada umumnya kalangan ilmuwan. Itulah yang menyebabkan terjadinya terobosan baru. Dr. Johansen bahkan menambahkan, “bangkitkan kembali sifat ingin tahu kita yang ada pada masa kecil, kemudian kemas dalam suatu kegiatan penelitian untuk menjawab keingintahuan kita, siapa tau anda mendapat nobel”. Sebagai contoh, rasa keingintahuan yang tinggi ditunjukan oleh Prof. Yanagida (Osaka University), yang pada awalnya bekerja di bidang elektronik, namun beliau ingin mengetahui bagaimana sistem elektronik dalam otak maupun otot manusia bekerja. Untuk menjawab keingintahuannya itu, ia kemudian berpindah dan mengambil gelar doktor di bidang bioscience dan saat ini menemukan terobosan baru di bidang robot molekular yang bekerja bagaikan sel hidup dan menghidupi dirinya dengan energi yang tidak perlu disuplai dari luar, tetapi memanfaatkan energi dari reaksi kimia yang terjadi dalam metabolisme tubuh manusia. Robot ini diharapakan mampu memberikan manfaat bagi dunia kesehatan nantinya meskipun terobosan ini masih sangat dirasa kontroversial sehingga sulit diterima oleh para pakar lain. Majalah Nature pernah mengatakan bahwa beliau sedang berenang melawan ombak “swimming toward the tide”. Namun secara khusus Dr Swinbanks malah mengatakan, bahkan majalah Nature sekalipunpun pernah menolak makalah yang dianggap kurang layak oleh para panelis, namun belakangan ketika makalah tersebut diterbitkan di majalah lain dan diacu oleh banyak peneliti, makalah itu menjadi dasar penulisnya untuk memenangi hadiah Nobel.

Dr. Johannsen mengakui bahwa penelitian yang bertitik tolak berdasarkan teori untuk membuktikan suatu fenomena lebih mudah difahami oleh para pakar lain dibandingkan dengan perolehan penelitian ekperimentalis, namun hal itu tidak berarti tidak ada hadiah Nobel untuk ekperimentalis. Seperti pada kasus konduktivitas polimer yang ditemukan secara tidak sengaja oleh Dr. Shirakwa. Namun, penjelasan toritis yang mengikutinya dapat difahamai dan diterima oleh para pakar lain, meskipun teori seperti itu belum pernah ada sebelumnya.

Nominasi hadial Nobel dapat dilakukan oleh beberapa orang atau organisasi tertentu diantaranya oleh pemenang hadiah Nobel sebelumnya, oleh Prof di universitas terpilih, oleh anggota Royal Sociaty of Sciences Swedia, dll. Para nominee kemudian akan diuji oleh para panelis terpilih untuk masing-masing bidang. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang kuat antar para peneliti di dunia ini sangat dominan mempengaruhi nominasi hadiah nobel. Tanpa komunikasi verbal secara langsung dalam beberapa kesempatan yang baik, sulit untuk diperolehnya suatu pemahaman yang sama akan suatu fenomena yang sedang berusaha dipelajari. Publikasi pada jurnal ternama seperti Nature dll bertujuan untuk meninggalkan catatan yang valid tentang mulai kapan kita melakukan penelitian pada bidang yang dimaksud atau kapan kita menemukan jawaban atas fenomena tersebut sehingga dapat ditentukan siapa sebenarnya penemu awal atas sebuah terobosan baru. Dr Swinbanks menyarankan agar kita tidak pernah ragu untuk mengirimkan makalah pada jurnal sekelas Nature sekalipun apabila kita yakin atas sesuatu yang kita temukan, dan tidak usah takut akan ditolak karena pada dasarnya lebih dari 90% makalah yang masuk akhirnya tertolak. Itu berarti bahwa anda tidak sendirian. Namun, penolakan tersebut tetap menjadi catatan bahwa sebuah makalah pernah diumumkan pada dunia oleh seseorang pada tanggal tertentu, meskipun tidak diterbitkan oleh jurnal yang dibidik. Beliau kemudian membeberkan beberapa tips penting untuk menggugah kesadaran para panelis seperti misalnya bagaimana kita menyusun state of the art dari pekerjaan kita. Misalnya kita selalu memulainya dengan kalimat “This work is important because of …. etc” dan beberapa tips lain termasuk penggunaan bahasa Inggris yang mumpuni. Bagi mereka yang berasal dari negara berbahasa ibu selain bahasa Inggris, mereka dapat menggunakan jasa English Rewriting Services yang kini sudah banyak tersedia dan dengan mudah dapat diakses melalui internet, meskipun tentunya tidak gratis.

Dr. Johansen menambahkan tips terakhir yang sangat penting, yaitu bila ingin meraih hadial nobel di bidang iptek, jangan menjadi matematikawan! Sebab tidak ada hadiah nobel untuk mereka. Sambil setengah berkelakar, beliau mengatakan bahwa Mr. Nobel dahulu pernah sakit hati oleh kekasihnya yang pakar matematika. Entah mengapa sampai akhir hayatnya Mr Nobel tidak pernah menyinggung matematikawan sebagai kandidat peraih hadiahnya, alasan yang pasti tidak seorangpun yang mengetahui.

 

Dapatkah Indonesia Melahirkan Pemenang Nobel?

Pertanyaan ini berawal dari sebuah pertanyaan seorang undangan yang menyatakan bahwa penelitian di negara maju membutuhkan investasi yang mahal, yang tidak mungkin dapat disamai oleh negara berkembang. Jawaban yang diberikan oleh presenter pada umumnya mengatakan bahwa, seharusnya setiap peneliti tidak usah khawatir dengan pendanaan, karena apabila kita memiliki konsep yang baik tentang usaha untuk mekalukan terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka selalu tersedia dana dan institusi yang siap bekerja sama dengan baik. Seperti diketahui, para peraih Nobel pun umumnya pernah bekerja di berbagai institusi penelitian terdepan sebelum akhirnya mereka dapat bekerja secara mandiri. Namun, semua itu harus berangkat dari dasar teori yang kuat yang dapat dilakukan tanpa investasi yang besar. Disamping hal tersebut, perlu diperhatikan juga bahwa penelitian (atau kajian teoritis) yang berada di ujung depan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus didasari pada usaha untuk memecahkan suatu fenomena, pembuktian teori dan menjawab rasa keingintahuan, bukan semata-mata menghimpun thema-thema yang menarik untuk mendapat pendanaan. Paradigma seperti inilah yang seharusnya juga dipegang oleh peneliti di Indonesia.

Dalam sebuah diskusi kelompok kecil dengan Dr Laughin, saya mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan penggunaan teknologi maju pada produksi bahan bakar alternatif dan ramah lingkungan dari palm oil dan atau selulosa dll yang melimpah di Indonesia, peraih nobel fisika yang futuristis mengatakan bahwa itulah yang seharusnya dilakukan serta keyakinannya bahwa sampai kapan pun – minimal 50 s/d 100 tahun kedepan – kita akan tetap memiliki “carbon engine” karena temuan Mr Otto akan mesin ini sangat spektakuler dan tidak akan tergantikan oleh mesin jenis apa pun, meskipun pada saat itu bahan bakar fosil sudah habis! Karena iptek akan selalu menemukan energi alternatif penganti fosil untuk carbon engine ini. Ia kemudian mencontohkan perbandingan antara carbon engine pada usaha untuk memproduksi energi listrik, dengan teknologi nuklir. Pada akhirya pada pembangkitan tenaga listrik, bagaimanapun juga tetap memerlukan energi yang berasal dari pembakaran bahan bakar berkarbon. Hal ini karena “combustion engine” memiliki kelebihan yang tidak tergantikan oleh mesin apapun. Oleh karena itu, arah kebijakan penelitian eksperimentalis kita sebaiknya dititikberatkan pada eksploitasi SDA untuk mempersiapkan kebutuhannya di masa depan berupa sumber daya yg terbarukan. Disamping memberikan kontribusi yang tidak dapat dilakukan oleh negara maju, siapa tahu hadiah Nobel akan lahir dari sana.

 

 

~ oleh luapankalbu pada Februari 7, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.