Pergi Cukur

Rumahku di gang sempit caladi dalam. Sebuah kawasan yang nama jalan2 dan gang nya dinamai dengan rupa rupa nama burung. Biasanya untuk menunjuk kawasan itu, orang menyembut daerah Gang Tilil, tilil tentu saja nama burung yg di pakai untuk nama gang meskipun mungkin terdengar aneh, tapi orang sudah biasa menyebutnya demikian.

Bila masuk dari arah jalan gagak, maka diujungnya akan di temui lapangan rumput yang luas, terlihat sangat luas karena pada saat itu aku masih sangat kecil. Kadang aku berlarian dari sudut arah gang caladi rumah ku kea rah seberang nya, namun tak pernah habis kutempuh dalam sekali lari! Terlalu besar bagi ku.
Lapangan ini sungguh mempesona.

Bila sore hari, banyak orang berkumpul sekedar jalan-jalan atau menonton anak2 bermain, ada yg sekedar berlarian, ada juga yang bermain layangan, aku lebih suka memandangi pegunungan yang mengelilingi kota Bandung dan terlihat semuanya dari tengah lapangan itu karena tidak ada bangunan yang menghalangi. Di arah utara dengan jelas terlihat tangkuban perahu lengkap dengan legenda kisah nya, di temani burangrang yang kesepian. Di selatan ada Sanghiyang Tikoro. Belakangan aku baru tau di SMA saat guruku menjelaskan soal gemertik air sungai bawah tanah yang terdengar seperti suara raksasa ngorok di perut gunung itu, sehingga di berinama tikoro atau tenggorokan.

Di arah timur lapangan ada sekolahan yg selalu ramai bila hari sekolah tiba. Kadang aku sengaja datang pada hari sekolah untuk melihat-lihat para penjual menjajakan beraneka mainan. Kadang juga memperhatikan anak2 sekolah yg ramai bercanda gurau. Tapi sayang, orang tua ku memilihkan aku sekolah di tempat lain sehingga sekolah itu hanya aku lewati setiap aku pergi sekolah.

Di arah barat ada masjid yg selalu ramai, terutama pada saat romadhon. Masjid ini punya cirri khas, yaitu di salah satu lisplang nya, ada bulatan loudspeaker yang menonjol keluar. Biasanya orang2 segera beriringan pulang bila adzan magrib berkumandang dari speaker itu. Mulailah berbondong-bondong orang masuk ke gang gang bernama berbagai burung itu. Biasanya yang paling ramai adalah yg masuk kea rah Gang Tikukur. Arah yang berlawanan dengan gang tilil tadi, di tengahnya ada gang caladi, didalam situ lah ada rumah kenanganku yang sekarang entah bagaimana.

Dilapangan ini ibuku pernah memiliki warung susu murni dan juga sebuah kios. Bila malam kadang aku mendengar ibuku melapor pada ayahku tentang hasil hari ini dan siapa2 yg masih berutang, sampai akhirnya aku tertidur.
Pada hari tententu, lapangan ini kadang berubah menjadi pasar malam lengkap dengan segala macam hiburan. Termasuk alunan lagu dangdut tahun 70an dengan speaker yg cempreng memekakan telinga. Tantangan paling menarik saat itu adalah permainan ombak banyu! Permainan yang menguras adrenalin meskipun hanya di gerakan tenaga manusia yg memutar2 kami yang duduk berderet-deret, dan menaik turunkannya.

Diantara caladi dan tilil, ada jalan yang sekaligus juga menjadi pasar. Ibu ku suka ke pasar ini dan kadang aku pun ikut ke sana melihat keramaian yang kadang aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tetapi selalu ada yg ingin aku lihat bersama kakaku, yaitu kereta kuda yang biasanya membawa dagangan, bisa tahu atau sayuran. Melihat kereta kuda untuk anak se umurkku bisa menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan. Sehingga bila pergi ke pasar pada saat tidak ada kereta kuda, sungguh menyedihkan.

Di ujung jalan pasar ini, ada sebuat warung unik. Cendol bertape ketan itam dengan alpukat matang yang sangat lezat. Pertama aku ke situ karena di ajak ayah, sampai bertahun tahun kemudian setelah itu aku masih suka ke situ dan selalu ingat rasa lazatnya, karena tidak ada cendol lebih lezat lagi dari itu bagiku. Setelah lama meninggalkan kota Bandung, beberapa tahun lalu saat berlebaran di kota ini lagi, aku menyempatkan untuk mampir ke warung itu. Alhamdulillah warung itu masih ada, meskipun penjualnya sdh ganti, atau mungkin sudah di teruskan oleh generasi penerusnya, seperti juga aku meneruskan rasa lezatnya pada anak2 ku sekarang.

Di salah satu kios di pinggir jalan di pasar itu, ada tukang cukur dengan beberapa kursi cukur dari besi. Ada 2 kemungkinan bila ayahku tiba2 mengajak aku pergi ke pasar. Menikmati cendol lezat atau “mengikatku” di kursi tukang cukur yang di ganjal papan. Sedih rasanya bila saat di kucur ada kereta kuda yang lewat, sebab tukang cukur itu tak pernah mengizinkan aku menoleh untuk melihat sekejap saja anggukan kuda yang berjuang menarik gerobaknya.

Jalan dan gang sempit bernama burung2 itu kini tinggal kenangan bagiku. Tahun lalu aku ajak istriku melihat kesana, ternyata semua masih utuh! Hanya terasa sangat lebih sempit di banding dulu waktu aku kecil, mungkin karena aku terlalu kecil pada waktu itu. Kenangan indah masa kecil itu ternyata masih sangat kental. Aku bahkan ingat aku sering duduk di pinggir kali di dekat masjid, di depan sebuah pavilion rumah yg di kontrak keluarga ku untuk tinggal. Aku bahkan juga masih ingat di mana dulu sobat kental ku Agi mengusap air mata ku saat aku menangis sepulang sekolah. Entah dimana Agi sekarang, Agy Fimansah tak pernah berhasil kutemukan melalui FB atau sebangasanya. Padahal dulu minimal kami selalu bertiga, Agi, Ari dan aku Aji.

~ oleh luapankalbu pada Juli 14, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.